Kadar air briket yang ideal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas briket arang. Kandungan air yang terlalu tinggi dapat membuat briket lebih sulit menyala dan mengurangi panas yang dihasilkan saat pembakaran.
Karena itu, proses pengeringan perlu dilakukan dengan baik setelah briket selesai dicetak. Pengeringan yang tepat membantu mengurangi kelembapan sekaligus membuat briket lebih siap digunakan atau disimpan dalam waktu tertentu.
Kadar Air Briket yang Ideal
Dalam standar mutu briket arang di Indonesia, kadar air umumnya ditetapkan maksimal 8%. Artinya, semakin rendah kadar air selama masih menghasilkan bentuk dan kekuatan briket yang baik, proses pembakaran biasanya dapat berlangsung lebih efektif.
Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan kadar air briket berada pada kisaran 3–7% setelah proses pengeringan. Kondisi tersebut masih berada di bawah batas 8% sehingga dapat menjadi gambaran bahwa briket yang sudah cukup kering memiliki kandungan air yang relatif rendah.
1. Mengapa Kadar Air Perlu Dikurangi?
Air yang masih tersimpan di dalam briket akan membutuhkan panas terlebih dahulu untuk berubah menjadi uap. Akibatnya, energi panas yang seharusnya membantu proses pembakaran ikut digunakan untuk menguapkan air.
Kadar air yang tinggi juga dapat membuat briket lebih sulit dinyalakan dan menghasilkan asap lebih banyak. Oleh sebab itu, produsen perlu memperhatikan kondisi briket sebelum memasuki tahap penyimpanan atau penggunaan.
2. Pengaruh Kadar Air terhadap Nilai Kalor
Kandungan air berkaitan dengan kemampuan briket menghasilkan panas. Ketika kadar air semakin tinggi, sebagian energi pembakaran akan terpakai untuk menguapkan air sehingga panas yang tersedia untuk proses pembakaran menjadi lebih rendah.
Sebaliknya, briket dengan kadar air rendah cenderung lebih mudah menyala dan dapat menghasilkan pembakaran yang lebih efektif. Namun, pengeringan tetap perlu dilakukan secara terkontrol agar briket tidak mengalami kerusakan fisik.
3. Cara Menurunkan Kadar Air Briket
Produsen dapat mengurangi kadar air dengan menjemur briket di bawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering. Pilihan metode dapat disesuaikan dengan jumlah produksi, kondisi cuaca, serta kebutuhan waktu pengeringan.
Saat menggunakan metode alami, susun briket dengan jarak yang cukup agar udara dapat bergerak di antara setiap bagian. Jika produksi berlangsung dalam jumlah banyak, penggunaan oven dapat membantu memberikan kondisi pengeringan yang lebih terkontrol.
4. Pastikan Briket Kering Secara Merata
Pengeringan tidak cukup hanya membuat bagian luar briket terasa kering. Bagian dalam juga perlu kehilangan kelembapan agar kadar air keseluruhan lebih stabil.
Karena itu, briket perlu disusun dengan rapi dan dibalik secara berkala ketika menggunakan metode penjemuran. Cara tersebut membantu panas dan aliran udara mencapai permukaan briket secara lebih merata.
5. Periksa Kondisi Sebelum Disimpan
Setelah proses pengeringan selesai, periksa kondisi briket sebelum memasukkannya ke tempat penyimpanan. Briket yang masih terasa lembap sebaiknya menjalani proses pengeringan tambahan agar tidak membawa kadar air berlebih ke dalam ruang penyimpanan.
Selain itu, simpan briket di tempat yang kering dan terlindung dari air. Briket arang memiliki sifat mudah menyerap kelembapan dari lingkungan sehingga kondisi penyimpanan dapat memengaruhi kadar air setelah pengeringan.
6. Gunakan Alat Pengering untuk Produksi Besar
Pelaku usaha dengan kapasitas produksi tinggi dapat mempertimbangkan penggunaan oven briket agar proses pengeringan lebih konsisten. Alat pengering juga dapat membantu ketika cuaca kurang mendukung proses penjemuran alami.
Informasi mengenai proses pengeringan briket dapat dipelajari lebih lanjut melalui artikel cara mengeringkan briket arang. Dengan memahami tahap pengeringan, produsen dapat lebih mudah menjaga kondisi briket sebelum dipasarkan.
Kesimpulan
Kadar air briket yang ideal umumnya berada di bawah batas 8% sesuai acuan SNI untuk briket arang. Kandungan air yang lebih rendah dapat membantu briket lebih mudah menyala dan mengurangi energi yang terbuang untuk menguapkan air selama pembakaran.
Karena itu, proses pengeringan dan penyimpanan perlu mendapat perhatian. Dengan pengeringan yang merata serta tempat penyimpanan yang kering, kualitas briket dapat lebih terjaga sebelum digunakan atau dipasarkan.

